free web page hit counter
Informasi Paling Asik
Sedang memuat....Cerita Pendek Cinta Paling Menarik dan Romantis....

Cerita Pendek Cinta Paling Menarik dan Romantis

PalingAsik.id – Cinta memang selalu menjadi sumber inspirasi dan kisah yang seringkali tak terduga. Banyak cerita cinta pendek yang indah, namun ada pula yang menyakitkan. Beragam lika-liku kehidupan percintaan akan kami sajikan di sini.

Kumpulan Cerpen Cinta Romantis

Matahari Terakhir

Cinta, misteri yang sulit untuk dipecahkan. Berkali-kali kumencoba untuk mengelak dari perasaan ini. Tetapi ia seperti tinta yang melekat pada pakaian. Sulit untuk dihilangkan.

Malam ini dengan perasaan tidak karuan aku bergegas ke rumah sakit. Kabarnya dia mengalami kecelakaan kerja. Tiba-tiba saja gas nitrogen di pabriknya bocor, dan karena terlalu banyak menghirup, ia jatuh pingsan. Rumah sakit sepi saat aku tiba di ruangannya. Ia masih memejamkan mata dengan selang infus yang mengelilingi tubuhnya. Tidak ada siapa pun yang menemaninya saat itu.

Setelah satu jam aku duduk di sampingnya, pintu ruangan terbuka.

“Hai. Kamu teman Boby? Aku Zetty, kakaknya. Terima kasih sudah menjaganya.”

Aku hanya mengangguk canggung.

“Kamu sudah lama dekat dengan Boby?”

Aku hampir tersedak air liur sendiri saat mendengar pertanyaan Kak Zetty. Bagaimana caraku menjawabnya? Aku hanya mengenalnya di salah satu UKM kampus. Lalu tak sengaja tau bahwa dia bekerja di kota tempatku tinggal, yang berjarak sekitar lima jam dari rumahnya.

“Eh, tidak juga, Kak. Kami tidak terlalu dekat,” jawabku jujur.

“Oh, ya? Tapi kamu terlihat cemas. Bagaimana kamu tau anak nakal ini di rawat di sini?”

“Dari Eru, Kak. Perawat yang tadi memeriksa Boby. Kebetulan dia teman SMA-ku.”

Dahi Kak Zetty mengernyit.

“Dia belum genap tiga bulan bekerja di kota ini, tapi sudah ada perawat yang mengenalnya. Apa diam-diam dia sering ke rumah sakit?”

Cerita Pendek Cinta

Aku makin gelagapan mendengar pertanyaan Kak Zetty. Tentu saja Eru mengenal Boby. Aku sering menceritakannya dan terkadang memperlihatkan foto Boby.

“Eh, hmm, bukan begitu, Kak. Eru tidak mengenal Boby, tapi dia sering melihat foto-foto kami saat sedang ada kegiatan di kampus.”

Kak Zetty manggut-manggut. Semoga dia tidak bertanya yang aneh-aneh lagi.

“Terima kasih, ya, kamu sudah mengurusi Boby sebelum aku datang. Aku sekarang bingung, bagaimana mengabari orang tua kami. Aku tidak mungkin lebih dari tiga hari di sini. Aku sudah tidak bisa memperpanjang cuti dan orang tua kami pasti curiga.”

Kuperhatikan wajah Kak Zetty yang letih. Matanya sayu dan sembab. Dia baru tiba sekitar jam sepuluh tadi malam. Entah apa yang ia katakan pada orang tua mereka sehingga bisa menemui Boby.

“Tapi kamu tenang saja. Aku sudah menghubungi pacar Boby. Dia akan datang sebentar lagi, dan kamu bisa beristirahat.”

Senyum Kak Zetty semakin lama semakin samar. Tertutup genangan air. Aku mendongak, memaksanya untuk tidak jatuh. Tuhan, perasaan apa ini? Mengapa begitu menyakitkan?

Waktu yang Menjelma

Ema masih duduk mematung di cafe tempat mereka biasa bersua. Sudah lima belas menit berlalu sejak ia tiba di sana. Sama artinya dengan setengah jam keterlambatan Firman. Ya, Ema memang sengaja molor agar tidak menunggu terlalu lama, tapi tetap begini saja kejadiannya.

Pintu café didorong pelan, seiring bayangan Firman yang sempurna tertangkap di retina Ema. Wajahnya, seperti biasa, tersenyum manis tanpa dosa. Jauh berbeda dengan wajah Ema yang ditekuk. Persis seperti raja judi yang kalah taruhan.

“Hai. Sepertinya kau sudah menunggu lama. Lihatlah wajah imut itu, berubah menyeramkan.” Sambil bercanda Firman menarik kursi dan duduk di hadapan Ema yang tetap cemberut.

“Kau telah membuang lima belas menit waktuku yang berharga. Aku bahkan sudah datang terlambat, dan ternyata kau lebih terlambat dariku.”

Naluri Ema sebagai wanita membuatnya mengomel tanpa kendali, yang lagi-lagi hanya dibalas dengan senyum oleh Firman, sambil tetap memasang wajah seolah mendengarkan, tanpa sedikit pun niat untuk kesal terhadap Ema.

Seolah? Tentu saja, karena itu bukan pertama kalinya Firman mendapat kuliah dadakan dari Ema karena keterlambatannya. Selalu terjadi lagi dan lagi. Sepertinya jam di hidup Firman berjalan lebih pelan, sehingga ia selalu tidak tepat waktu. Begitulah selalu yang dipikirkan Ema.

 “Maafkan aku selalu membuatmu menunggu. Sungguh aku tidak pernah berpikir seperti apa yang kau katakan. Kau tau, aku harus menyiapkan banyak hal untuk pernikahan kita. Masih banyak tagihan yang belum selesai.”

Firman semakin mengeratkan genggamannya, sedangkan Ema sedang berusaha keras untuk melepaskan.

“Aku bosan mendengar penjelasanmu.”

Hari itu berakhir tanpa kesimpulan. Firman hanya menatap sendu wajah calon istrinya yang terlihat sangat lelah. Ya, Firman sangat mengerti kekhawatiran Ema akan pernikahan mereka, sehingga membuatnya menjadi lebih mudah marah.

Tapi dia sendiri tidak bisa mengendalikan keadaan. Dia tidak bisa diam-diam kabur dari meja kerjanya, sedangkan kliennya masih sibuk berkonsultasi. Dan dia juga tidak mungkin mengambil cuti sekarang karena akan meninggalkan banyak beban dan bisa-bisa membuatnya salah jalan saat menuju ke pernikahan mereka.

Akhirnya sehari sebelum hajatan besar itu diselenggarakan, Firman bisa mengambil cuti setengah hari, yang dihabiskan untuk memastikan pernikahannya besok akan berjalan lancar. Undangan, catering, gedung, souvenir, sepertinya semua aman. Hingga ia melupakan satu hal yang lebih penting dari itu semua. Calon mempelai wanita, apakah sekarang dia juga aman?

Cerita Pendek Cinta

Firman tidak tau, di rumahnya, Ema sedang menangis sendiri di bawah bantal. Menuduh Firman tidak peduli lagi dengannya, berpikir Firman mulai melupakannya, dan sebagainya, dan sebagainya. Membuat mata bulat itu bengkak dan merah. Mata yang seharusnya terlihat sempurna besok, saat resmi menjadi satu-satunya ratu di dalam kerajaan mereka berdua.

Firman tidak melibatkan Ema dalam inspeksi mendadaknya kali ini bukan karena tidak percaya lagi. Sungguh tidak sekejam itu hati Pria berkulit gelap ini. Terlalu lembut malah. Ia hanya khawatir Ema terlihat kurang sehat saat duduk di sebelahnya untuk menandatangani buku nikah mereka. Bahkan di teleponnya ia hanya berkata “Cepatlah tidur, Sayang. Kita harus berada dengan wajah sempurna besok di hari terindah kita.” Membuat gundah hati Ema semakin membesar.

Mengapa dia begitu santai, bahkan dia sudah ingin tidur ketika jam baru menunjukkan pukul delapan. Pikir Ema sambil membersihkan pipinya yang tak kunjung kering. Ema tidak tau apa yang tengah dikerjakan Firman untuknya bahkan hingga jam satu malam.

Waktu berlalu dengan cepat. Sudah jam delapan pagi. Ema telah siap dengan riasan pengantin yang semakin memperindah wajahnya. Meskipun tanpa riasan itu, wajah Ema cukup membuat para lelaki menoleh.

Ema bolak-balik di depan pintu, mondar-mandir sendiri. Sesekali menghela napas, kemudian kembali menoleh ke jalanan. Ibu Ema berkali-kali menghampirinya, bertanya mana Firman, sudah hampir setengah jam dia terlambat.

Ema menggeleng tanpa bicara, kemudian duduk, dan berdiri lagi. Para tamu mulai berbisik. Menduga Firman tidak pernah menginginkan pernikahan ini dan memilih melarikan diri. Sebagian lagi menerka bahwa orang tua Firman mengurungnya karena telah menjodohkan lelaki berambut cepak itu dengan gadis lain.

Bedak Ema hampir luntur karena keringat dingin. Mata bengkaknya mendadak berbinar saat akhirnya sang mempelai pria datang dengan keluarganya. Dia berdehem sambil melirik jam. Firman yang mengerti maksud sindiran itu hanya tersenyum dan tetap berjalan santai.

Cerita Pendek Cinta

Akad telah terucap, negara telah mencatat. Mereka berdua kini resmi menjadi keluarga baru. Ema yang selalu tepat waktu, dan Firman yang lebih sering terlambat, bahkan di hari pernikahan mereka. Seharusnya saat ini Firman dan Ema tengah duduk berdua di atas pelaminan.

Kemudian berdiri menyalami tamu-tamu yang hendak pulang. Tapi, Firman malah menarik Ema keluar. Demi melihat gelagat aneh tersebut, para tamu pun satu per satu mengekori mereka berdua.

Dan betapa terkejutnya Ema demi melihat apa yang kini ada di hadapannya. Lututnya menjadi lemas, matanya mengerjap-ngerjap, dan kerongkongannya tercekat. Jadi ini yang telah disiapkan Firman selama ini. Yang membuat Pria itu selalu datang terlambat, bahkan di hari pernikahan mereka.

Riuh tepuk tangan tamu memeriahkan suasana. Membuat irama di antara seratus pasang sayap merpati yang terbang bebas dan menjadi hadiah terindah untuk Ema. Hadiah dari seorang laki-laki yang kini resmi menjadi miliknya. Berbicara tentang cinta memang seperti tidak ada habisnya. Semoga cerita cinta pendek si atas dapa menghibur Anda. Dan semoga kita bisa lebih memahami arti cinta.

/* */