free web page hit counter
Informasi Paling Asik
Sedang memuat....Cerita Rakyat Malin Kundang Beserta Pesan Moralnya....

Cerita Rakyat Malin Kundang Beserta Pesan Moralnya

Cerita Rakyat Malin Kundang Beserta Pesan Moralnya

Ilustrasi Cerita Rakyat Malin Kundang, Si Anak Durhaka

Cerita Rakyat Malin Kundang – Kita sudah sering mendengar cerita rakyat yang berasal dari Sumatera Barat ini. Cerita rakyat satu ini menjadi salah satu pelopor utama bagi siapapun agar tidak durhaka kepada orang tua. Seringkali cerita rakyat satu ini menjadi perumpamaan. Anak-anak di sekolah di bacakan cerita ini sebagai acuan agar mereka tidak berbuat seperti itu ketika dewasa nanti.

Rasanya cerita ini tidak akan pudar oleh waktu, kisah yang singkat namun mengena dan memberikan banyak pesan moral yang bisa kita petik. Jika Anda ingin bernostalgia tentang cerita ini, atau mungkin menceritakan kembali cerita Malin Kundang kepada anak atau saudara Anda. Berikut dibawah kisahnya.

Cerita rakyat Malin Kundang

Pada sebuah desa kecil pinggir pantai di Pulau Sumatera, lebih tepatnya Sumatera Barat, hiduplah seorang wanita dan anaknya. Sang anak merupakan Malin Kundang dan sang wanita adalah ibunya. Ibu dari Malin Kundang merupakan orang tua tunggal karena ayah Malin Kundang telah lama meninggal saat Malin masih bayi. Keadaan kehidupan mereka sangat miskin, yang bahkan tidak memungkinkan bagi mereka untuk tinggal dirumah yang layak.

Sebagai anak tunggal tanpa bapak, Malin masih bisa kuat bertahan hidup ditengah kehidupannya yang sulit dan termasuk dalam anak laki-laki yang rajin dan kuat. Sifatnya yang individualis membuatnya sering bekerja keras sendiran termasuk pergi ke laut untuk mendapatkan ikan.

Ketika Malin sedang berlayar mencari ikan, dia menyaksikan kapal dagang besar yang di ganggu oleh kelompok bajak laut. Dengan sifat pemberani Malin, dan kekuatannya, ia berhasil membuat para bajak laut kalah telak.

Sang pedagan pemilik kapal merasa sangat berterima kasih telah di tolong. Sebagai balas budi, ia pun meminta Malin untuk berlayar bersama dan menyusuri samudra. Meninggalkan sang ibu di desa sendirian.

Keputusan ini juga di dukung karena Malin tidak tahan dengan kehidupannya yang miskin,  Kundang berpikir, “Jika saya tinggal di sini, saya tidak akan memiliki kehidupan yang lebih baik, saya harus meninggalkan tempat ini dan mencari pekerjaan di kota sana.”

Ketika mendengar pengakuan tersebut,  ibu Malin Kundang sangat sedih mendengarnya. Ia juga ingin melihat Malin Kundang menjadi orang yang sukses, dalam lubuk hati terdalam dia tahu Malin Kundang benar. Jadi pada akhirnya pun sang ibu membiarkannya pergi.

Setelah anaknya pergi merantau, ibu Malin Kundang pergi ke pantai setiap hari. Dia berharap anaknya akan segera kembali. Pada malam harinya ia selalu mendoakan Malin untuk keselamatan anaknya. Dia akan meminta tolong kapten kapal apakah melihat anaknya atau tidak. Tapi dia tidak mendapat kabar apapun tentang Malin Kundang.

Tahun dan tahun berlalu, Malin Kundang sudah menjadi kaya raya dan berpenampilan lebih baik dari sebelumnya. Ia menikah dengan anak saudagar yang cantik dan kaya raya. Malin memiliki kapal besar dengan awak kapal yang memuat barang dagangan.

Sementara itu, akhirnya setelah bertahun-tahun terlewati, seorang kapten sebuah kapal mengatakan kepada Ibu Malin Kundang, “Malin Kundang? Saya bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu, dia sekarang menikah dengan seorang gadis cantik, dia adalah anak perempuan dari seseorang yang sangat kaya.” Saat itu keadaan ibu Malin Kundang sudah sangat tua dan renta.

Ibu Malin Kundang sangat senang mendengarnya. Akhirnya setelah sekian lama ia merindukan sang anak lelaki, Ibu akan segera melihat wajahnya lagi. Tak sabar ingin memeluk dan bertemu dengan Malin Kundang lagi.

“Terima kasih Tuhan!” Dia berdoa. Dia yakin Malin Kundang akan pulang suatu hari nanti.

Cerita Rakyat Malin Kundang Beserta Pesan Moralnya

Saat pagi menjelang, sebuah kapal indah besar berlabuh. Pasangan muda berdiri di dermaga. Mereka memakai  pakaian yang sangat indah. Ibu Malin Kundang menangis bahagia, “Malin Kundang! Anakku, kamu kembali ke rumah!” Dia memeluk pemuda itu.

Malin Kundang tidak mempercayainya. Dia berpikir, “Tidak mungkin ini ibuku! Dia wanita yang kuat saat aku pergi.” Tapi istrinya berkata dengan marah, “Kenapa kamu tidak memberitahuku bahwa ibumu sudah tua dan…  Dia seseorang yang sangat malang?” Lalu dia melirik wanita tua itu dengan tatapan tak suka.

Wanita tua itu menangis. Dia tidak percaya apa yang didengarnya. “Malin, aku ibumu.” Didalam hati ia sangat kecewa, anak satu-satunya yang ia nantikan dengan sabar selama ini, yang tak pernah letih ia doakan akan kesehatan dan keselamatannya.

Tapi Malin Kundang tidak mendengarkan. Dia malu memiliki ibu tua. Malin malah menendang wanita tua itu kemudian meneriakinya, “Pergilah, wanita jelek. Ibuku sama sekali tidak mirip denganmu.”

Wanita tua itu jatuh ke tanah. Dia menangis. Malin sama sekali tidak mau mengakui keberadaannya. Sia-sia sudah pengorbanannya selama ini. Kemudian dia berdoa, “Ya Tuhan, jika dia benar-benar anakku, tolong hukum dia.”

Tiba-tiba ada badai petir. Gelombang besar melanda pantai dengan suara nyaring yang memekakkan telinga. Mereka menghantam segala sesuatu mulai dari kapal besar hingga pohon kelapa di sepanjang pantai. Badai itu sangat dahsyat.

Badai berhenti di pagi hari. Tapi penduduk desa bisa melihat apa yang telah diakibatkan badai itu. Tak jauh dari pantai, ada bebatuan yang tampak seperti reruntuhan dan penumpang kapal. Orang percaya bahwa itu adalah kapal Malin Kundang, dan Malin Kundang berubah menjadi terumbu karang. Tuhan telah menghukumnya.

Cerita Rakyat Malin Kundang Beserta Pesan Moralnya

Pesan Moral Cerita Rakyat Malin Kundang

Begitulah akhir dari cerita Malin Kundang yang berakhir dengan tragis. Cerita yang berasal dari Sumatera Barat ini memberikan banyak pesan moral. Setelah Anda membacanya, pasti bisa menarik kesimpulan dan merangkum pesan moral apa saja yang tercantum, seperti:

  • Sebagai seorang anak, hargailah orang tua yang telah membesarkan Anda. Terlebih ibu yang berada di sela-sela kesusahan dan masih mengurus Anda dengan baik.
  • Jangan menjadi pemberontak yang tidak bertanggung jawab. Cerita Malin Kundang ini memberi pesan kepada kita bahwa Malin tidak bertanggung jawab akan kewajiban seorang anak kepada ibunya.
  • Jangan malu dan merendahkan Ibu. Mau bagaimanapun keadaannya, ibu tetaplah ibu yang memperjuangkanmu dalam perunya selama sembilan bulan dan orang pertama yang menerima kehadiranmu di dunia.
  • Tidak hanya soal bakti kepada orang tua, namun juga kecintaan perantau akan kampung halamannya yang telah membesarkannya. Kebanggan pada budaya dan tradisi yang mengalir di darahnya, Malin seharusnya menghargai itu.
  • Pernah mendengar “Kacang lupa akan kulitnya.”? Malin lupa darimana ia berasal. Ia tenggelam dalam kemewahan dunia barunya yang menutup kedua matanya untuk berbuat murah hati.

Karena kepopulerannya, sudah banyak yang mengangkat cerita rakyat yang berasal dari Sumatera Barat ini menjadi sinetro, film, bahan untuk story telling dalam berbagai bahasa, dan cerpen. Karya hasil dari adaptasi Malin Kundang sangat beragam.

Cerita ini sudah tertanam di benak Anda, dan tanpa perlu bacaan pun Anda sepertinya sudah bisa menceritakannya kembali. Cerita Rakyat Malin Kundang serta pesan moralnya perlu kita simpan baik-baik untuk menjadi bekal kita sampai tua nanti.

/* */